Sebuah drama layanan purna jual (after-sales) yang mengejutkan tengah menjadi perbincangan hangat di komunitas PC global. Seorang konsumen mendapati klaim garansi RAM DDR5 miliknya ditolak oleh sebuah toko ritel, bukan karena kesalahan penggunaan, melainkan dengan alasan yang terbilang sangat tidak lazim: karena harga komponen tersebut saat ini sedang naik tajam.
Retailer Ini Tolak Garansi RAM DDR5 Karena Harganya Sedang Melambung Tinggi

Insiden kurang menyenangkan ini pertama kali mencuat melalui video dari kanal YouTube teknologi populer, Hardware Unboxed. Kasus ini menimpa seorang pembeli bernama Goran yang berusaha menukarkan RAM Corsair 32 GB DDR5 miliknya yang rusak ke Umart, salah satu retailer perangkat keras komputer terbesar di Australia.
Meskipun hasil pengujian internal dari pihak toko telah mengonfirmasi bahwa produk tersebut memang cacat atau rusak dari pabrikannya, Umart secara sepihak menolak untuk memberikan unit pengganti (replacement). Alih-alih mendapatkan RAM baru yang menjadi haknya sebagai konsumen bergaransi, Goran hanya ditawarkan pengembalian dana (refund) sesuai dengan harga beli pada tahun 2024 lalu, yakni sebesar 155 AUD (Dolar Australia).
Tawaran tersebut tentu sangat merugikan pihak pembeli. Pasalnya, akibat krisis chip memori RAM yang tengah melanda pasar saat ini, harga untuk unit RAM yang sama telah melonjak drastis hingga empat kali lipat, menyentuh kisaran angka 600 AUD. Uang refund sebesar 155 AUD yang ditawarkan jelas tidak akan cukup untuk membeli RAM pengganti di pasaran saat ini.

Alasan yang dilontarkan pihak toko bisa dibilang sangat absurd. Mereka mengklaim bahwa dengan memberikan unit RAM pengganti di saat harga pasar sedang melambung tinggi, tindakan tersebut akan dianggap sebagai sebuah "upgrade" bagi konsumen. Padahal, stok unit untuk tipe RAM tersebut disinyalir masih tersedia melimpah di gudang Umart.

Situasi bertambah panas ketika pihak retailer diduga "menyandera" unit RAM yang rusak tersebut. Hal ini membuat Goran tidak bisa melakukan klaim garansi alias RMA secara langsung ke pihak manufaktur, yaitu Corsair.
Kasus ini pun dengan cepat memicu kemarahan dari para builder dan komunitas PC. Banyak yang menduga bahwa pihak retailer sengaja menahan hak garansi konsumen demi mencari keuntungan dari selisih lonjakan harga pasar saat ini. Kejadian ini menjadi pengingat penting bagi para konsumen untuk selalu teliti terhadap kebijakan garansi dari toko tempat mereka merakit atau membeli komponen PC.
Ikuti Komputermedan di Google untuk mendapatkan lebih banyak liputan berita kami.
